Respect The Planet Earth

Berkelana ke Negeri Seberang

  • KKL BROMO - BALI
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Kabupaten Pangandaran
  • Kabupaten Pangandaran
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Observasi Lapangan
  • Geo Track
  • Geo Track
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Touring Garut
  • Touring Garut
  • KKL Dieng - Cilacap
  • KKL Dieng - Cilacap
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Lembang - Bandung
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Karangsambung
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • Wisata Religi Cirebon
  • Wisata Religi Cirebon
  • Studi Obsevasi Wisata Adat & Budaya
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Rekreasi - MTs Mathlab
  • Rekreasi - MTs Mathlab
  • MTs Mathlabussa'adah
  • MTs Mathlabussa'adah
  • Bandung
Rabu, 16 September 2026

Ketika Karnaval Berubah Menjadi Polemik: Belajar dari Fenomena di Pekalongan

Ketika Karnaval Berubah Menjadi Polemik: Belajar dari Fenomena di Pekalongan

Oleh: Alma Arif Iqbal Nurulhakim

https://www.instagram.com/p/DdQpDHRoOog/?stkn=MWtsaWo5NXpqa2hzZw==
Sumber Gambar  : https://www.instagram.com/p/DdQpDHRoOog/?stkn=MWtsaWo5NXpqa2hzZw==


Sebagai seorang guru IPS, saya cukup sering mengajak peserta didik untuk melihat berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat.

Bagi saya, IPS bukan hanya berbicara tentang peta, penduduk, ekonomi, sejarah, atau interaksi sosial. IPS juga mengajarkan kita untuk membaca masyarakat.

Apa yang sedang terjadi?

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Apa dampaknya?

Dan yang tidak kalah penting, nilai apa yang dapat kita ambil dari sebuah fenomena sosial?


Belakangan ini perhatian saya tertuju pada sebuah fenomena karnaval di Pekalongan yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Namanya Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026.

Kegiatan tersebut pada awalnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat, termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal. Namun, sebuah penampilan dalam karnaval tersebut kemudian menjadi sorotan karena menampilkan visual, kostum, properti, dan adegan yang oleh banyak orang dinilai memiliki nuansa atau simbol yang menyerupai ritual satanik.

Saya melihat potongan videonya.

Jujur, sebagai orang yang hidup di lingkungan masyarakat yang cukup dekat dengan tradisi keagamaan, tentu muncul pertanyaan dalam pikiran saya:

Mengapa simbol seperti itu bisa hadir dalam sebuah acara masyarakat yang memiliki latar belakang kegiatan keagamaan?

Apakah memang benar itu merupakan ritual satanisme?

Atau hanya sebuah pertunjukan seni yang menggunakan simbol-simbol tertentu tanpa memahami maknanya?

Pertanyaan kedua ini penting.

Sebab, berdasarkan penjelasan dari pihak peserta, mereka mengaku tidak memahami makna satanic dari kostum maupun simbol yang digunakan. Konsep pertunjukan disebut terinspirasi dari berbagai pertunjukan karnaval yang mereka lihat melalui media sosial. Bahkan pihak peserta kemudian menyampaikan penyesalan karena kurangnya literasi mengenai simbol yang mereka gunakan.

Di sinilah menurut saya terdapat pelajaran sosial yang cukup besar.

Jangan Asal Meniru Apa yang Kita Lihat

Kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh.

Cukup membuka TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, atau platform lainnya, berbagai macam bentuk kreativitas dari seluruh dunia dapat kita lihat.

Ada yang menarik.

Ada yang unik.

Ada yang lucu.

Ada yang ekstrem.

Ada yang terlihat keren.

Dan terkadang kita ingin menirunya.


Masalahnya, tidak semua yang terlihat menarik harus ditiru.

Sebuah simbol bisa memiliki sejarah.

Sebuah pakaian bisa memiliki makna.

Sebuah gerakan bisa memiliki pesan.

Sebuah ritual bisa memiliki latar belakang tertentu.

Sesuatu yang bagi seseorang hanya dianggap sebagai "kostum keren", bagi kelompok masyarakat lain mungkin memiliki makna yang sangat berbeda.

Maka menurut saya, kreativitas tetap membutuhkan literasi.

Kreatif saja tidak cukup.

Kita juga harus memahami apa yang sedang kita tampilkan.

Inilah Pentingnya Literasi Budaya

Fenomena Pekalongan ini mengingatkan saya bahwa literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca tulisan.

Kita juga perlu memiliki literasi budaya dan literasi simbol.

Anak-anak kita hari ini sangat mudah mendapatkan berbagai informasi dari internet. Mereka dapat melihat budaya Korea, Jepang, Amerika, Eropa, bahkan berbagai subkultur yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka kenal.

Hal tersebut bukan berarti semuanya harus dijauhi.

Tetapi semuanya harus dipahami dan disaring.

Dalam konteks pendidikan, di sinilah guru memiliki peran.

Guru IPS tidak hanya mengajarkan materi di dalam buku teks.

Guru juga perlu mengajak peserta didik membaca fenomena nyata di lingkungan mereka.

Ketika melihat sebuah tren di media sosial, jangan hanya bertanya:

"Keren atau tidak?"

Tetapi juga:

"Apa maknanya?"

"Dari mana asalnya?"

"Nilai apa yang dibawanya?"

"Apakah sesuai dengan norma masyarakat kita?"

"Apa dampaknya jika ditiru?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu menurut saya jauh lebih mendidik.

Kebebasan Berekspresi Tetap Memiliki Batas

Saya termasuk orang yang menghargai kreativitas.

Seni membutuhkan ruang untuk berkembang.

Karnaval juga merupakan salah satu bentuk ekspresi masyarakat.

Tetapi kebebasan berekspresi tidak berarti bebas dari nilai dan tanggung jawab.

Apalagi ketika sebuah pertunjukan dilakukan di ruang publik dan disaksikan oleh masyarakat dari berbagai usia.


Pihak pemerintah daerah sendiri kemudian menyampaikan bahwa kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Salah satu pertimbangannya adalah bahwa pertunjukan di ruang publik harus tetap memperhatikan norma, kultur, adat, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Menurut saya, ini merupakan sikap yang tepat.

Bukan berarti kreativitas harus dimatikan.

Justru kreativitas perlu diarahkan agar tetap kreatif tanpa kehilangan identitas dan nilai.

Apalagi Jika Dikaitkan dengan Maulid Nabi

Bagian ini yang menurut saya paling mengundang perenungan.

Jika sebuah kegiatan berada dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tentu semangat yang ingin dibangun idealnya adalah kecintaan kepada Rasulullah, keteladanan akhlak beliau, persaudaraan, dan nilai-nilai kebaikan.

Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Maka menurut saya, ketika kita membuat sebuah kegiatan dalam suasana Maulid Nabi, seharusnya kreativitas yang ditampilkan juga sebisa mungkin membawa manusia kepada nilai-nilai kebaikan.

Bukan justru membuat masyarakat bingung dengan simbol dan adegan yang bertentangan dengan suasana keagamaan.

Bahkan jika pembuatnya tidak memiliki maksud satanik sekalipun, sebuah pertunjukan tetap perlu mempertimbangkan bagaimana masyarakat akan memaknai apa yang mereka lihat.

Sebab dalam kehidupan sosial, bukan hanya niat yang penting.

Ada pula dampak dan persepsi publik.

Belajar dari Sebuah Polemik

Saya tidak ingin buru-buru memberikan vonis kepada orang-orang yang terlibat dalam karnaval tersebut.

Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa mereka pasti melakukan ritual satanisme.

Fakta yang muncul justru menunjukkan bahwa pihak peserta membantah adanya maksud ritual satanik dan menjelaskan bahwa mereka tidak memahami makna dari simbol yang digunakan.

Namun, justru di situlah letak pelajarannya.

Ketidaktahuan terhadap makna sebuah simbol ternyata dapat menimbulkan persoalan besar.

Apa yang awalnya mungkin dimaksudkan sebagai hiburan dan kreativitas akhirnya menjadi polemik nasional.

Maka, sebelum menggunakan sesuatu yang kita lihat di internet, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu:

Apa ini?

Dari mana asalnya?

Apa maknanya?

Nilai apa yang terkandung di dalamnya?

Apakah sesuai dengan agama, budaya, dan norma masyarakat kita?

Kalau belum tahu jawabannya, mungkin lebih baik kita mencari tahu terlebih dahulu.

IPS Mengajarkan Kita untuk Tidak Sekadar Menonton

Fenomena seperti ini sebenarnya sangat menarik jika dibawa ke ruang kelas.

Peserta didik dapat diajak menganalisisnya dari berbagai sudut pandang:

Sosiologi: bagaimana masyarakat memberikan respons terhadap sebuah fenomena?

Budaya: bagaimana proses akulturasi dan masuknya budaya dari luar melalui media sosial?

Geografi: bagaimana perkembangan teknologi membuat interaksi antarruang semakin mudah?

Ekonomi: bagaimana kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi dan industri kreatif?

Pendidikan: bagaimana pentingnya literasi digital dan literasi budaya bagi generasi muda?


Inilah yang saya maksud ketika mengatakan bahwa IPS bukan sekadar hafalan.

Masyarakat adalah laboratorium IPS yang sangat luas.

Setiap fenomena yang terjadi dapat menjadi bahan pembelajaran.

Termasuk sebuah karnaval.

Pada Akhirnya...

Saya tidak sedang menghakimi.

Saya hanya sedang belajar membaca sebuah fenomena.

Dari peristiwa ini saya semakin yakin bahwa kreativitas harus berjalan bersama literasi, kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, dan kemajuan zaman harus tetap berjalan bersama nilai.

Jangan sampai karena ingin terlihat unik, kita justru menggunakan simbol yang tidak kita pahami.

Jangan sampai karena ingin mengikuti tren, kita kehilangan identitas.

Dan jangan sampai karena terlalu mudah percaya pada apa yang terlihat di media sosial, kita lupa untuk bertanya:

"Apa makna sebenarnya?"

Sebagai guru IPS, saya melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai sebuah kontroversi.

Saya melihatnya sebagai sebuah pelajaran sosial.

Pelajaran tentang budaya.

Pelajaran tentang media sosial.

Pelajaran tentang literasi.

Pelajaran tentang kebebasan berekspresi.

Dan yang paling penting, pelajaran tentang bagaimana kita seharusnya menjadi manusia yang mampu berpikir sebelum mengikuti.

Karena tidak semua yang viral harus ditiru.

Tidak semua yang unik harus digunakan.

Dan tidak semua yang terlihat keren berarti baik.

Saring sebelum sharing.

Pahami sebelum meniru.

Berpikir sebelum bertindak.


Itulah salah satu bentuk literasi yang menurut saya sangat penting bagi generasi kita hari ini.


Wallahu'alam

0 komentar:

Posting Komentar

Wilujeng Sumping

Kebijakan Privasi

Kebijakan Privasi

Blog ini menghormati privasi Anda. Informasi pribadi yang kami kumpulkan, seperti nama dan email (jika Anda berkomentar), tidak akan disebarkan atau digunakan untuk tujuan lain tanpa izin Anda.

Kami menggunakan layanan pihak ketiga seperti Google AdSense yang mungkin menempatkan cookie di browser Anda untuk menampilkan iklan yang relevan.

Anda dapat mengatur preferensi iklan melalui pengaturan Google Ads: https://adssettings.google.com.

 
;
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda di Blog Sederhana Ini, Semoga Berkenan dan Ada Manfaatnya, bagi yang mau memasang iklan produknya di blog saya ini silahkan hubungi no HP : 085223419416, Terima Kasih dan Salam Kebahagiaan Dari Saya :)