Respect The Planet Earth

Berkelana ke Negeri Seberang

  • KKL BROMO - BALI
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Kabupaten Pangandaran
  • Kabupaten Pangandaran
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Observasi Lapangan
  • Geo Track
  • Geo Track
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Touring Garut
  • Touring Garut
  • KKL Dieng - Cilacap
  • KKL Dieng - Cilacap
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Lembang - Bandung
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Karangsambung
  • KKL Bromo - Bali
  • KKL Bromo - Bali
  • Wisata Religi Cirebon
  • Wisata Religi Cirebon
  • Studi Obsevasi Wisata Adat & Budaya
  • KKL Dieng - Cilacap
  • Rekreasi - MTs Mathlab
  • Rekreasi - MTs Mathlab
  • MTs Mathlabussa'adah
  • MTs Mathlabussa'adah
  • Bandung
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 November 2013 0 komentar

WISATA ADAT DAN BUDAYA KAMPUNG NAGA

Assalaamu'alaikum Warohmatulloh
Selamat pagi, siang, sore maupun malam para pembaca yang budiman dan beriman dimanapun anda berada, mudah-mudahan para pembaca blog sederhana milik saya ini dalam keadaan sehat serta bahagia, aamiin
dan tidak bosan-bosannya untuk menikmati sajian tulisan dari saya mudah-mudahan berkenan di hati pembaca sekalian.
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan memposting mengenai WISATA ADAT & BUDAYA yang ada di Kabupaten Tasikmalaya. Penasaran???
oke...langsung saja. Kita sebelumnya mesti kenalan dulu nih dengan yang namanya wisata, adat dan budaya secara definisinya supaya tidak tersesat dan tahu tujuannya.
Wisata menurut "Undang – undang pemerintah nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan" Wisata adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari daya tarik wisata yang dikunjunginya dalam jangka waktu sementara. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata sedangkan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.
Menurut Wikipedia Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.
Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Sudah tahu kan sekarang apa yang dimaksud dengan WISATA, ADAT dan Juga BUDAYA. Sekarang mari kita simak terlebih dahulu tentang DESA WISATA
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.
Yang saya posting barusan merupakan pendahuluan tentang rencana pemberangkatan yang insya allah siswa-siswi kelas VIII dan guru-guru MTs Mathlabussa'adah Tenjonagara - Cigalongtang akan pergi ke DESA WISATA ADAT DAN BUDAYA KAMPUNG NAGA pada tanggal 27 November 2013. Oke bila tadi kita sudah mengenal tentang definisi, sekarang mari kita santap kembali informasi mengenai Objek Kajian yang akan kita kunjungi yaitu KAMPUNG NAGA atau saya suka sering bilang THE DRAGON VILLAGE,,hehehe
Check This Out

Kampung Naga
merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Sejarah
Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor". Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.
Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi.
Lokasi dan topografi
Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda : sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.
Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.
Religi dan sistem pengetahuan
Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam, akan tetapi sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. Artinya, walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, syariat Islam yang mereka jalankan agak berbeda dengan pemeluk agama Islam lainnya. Bagi masyarakat Kampung Naga dalam menjalankan agamanya sangat patuh pada warisan nenek moyang. Umpanya sembahyang lima waktu: Subuh, Duhur, Asyar, Mahrib, dan salat Isa, hanya dilakukan pada hari Jumat. Pada hari-hari lain mereka tidak melaksanakan sembahyang lima waktu. Pengajaran mengaji bagi anak-anak di Kampung Naga dilaksanakan pada malam Senin dan malam Kamis, sedangkan pengajian bagi orang tua dilaksanakan pada malam Jumat. Dalam menunaikan rukun Islam yang kelima atau ibadah Haji, mereka beranggapan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Tanah Suci Mekkah, namun cukup dengan menjalankan upacara Hajat Sasih yang waktunya bertepatan dengan Hari Raya Haji yaitu setiap tanggal 10 Rayagung (Dzulhijjah). Upacara Hajat Sasih ini menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.
Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.
Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam ("leuwi"). Kemudian "ririwa" yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut "kunti anak" yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi ageung dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.
Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.
Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).
Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.
Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.
Adapu pantangan atau tabu yang lainnya yaitu pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Masyarakat kampung Naga dilarang membicarakan soal adat-istiadat dan asal-usul kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sementara itu, di Tasikmalaya ada sebuah tempat yang bernama Singaparna, Masyarakat Kampung Naga menyebutnya nama tersebut Galunggung, karena kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga.
Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang terwujud pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula. Tempat atau daerah yang mempunyai batas dengan kategori yang berbeda seperti batas sungai, batas antara pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, tempat air mulai masuk atau disebut dengan huluwotan, tempat-tempat lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya, merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Daerah yang memiliki batas-batas tertentu tersebut didiami mahluk-mahluk halus dan dianggap angker atau sanget. Itulah sebabnya di daerah itu masyarakat Kampung Naga suka menyimpan "sasajen" (sesaji).
Kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap waktu terwujud pada kepercayaan mereka akan apa yang disebut palintangan. Pada saat-saat tertentu ada bulan atau waktu yang dianggap buruk, pantangan atau tabu untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang amat penting seperti membangun rumah, perkawinan, hitanan, dan upacara adat. Waktu yang dianggap tabu tersebut disebut larangan bulan. Larangan bulan jatuhnya pada bulan sapar dan bulan Rhamadhan. Pada bulan-bulan tersebut dilarang atau tabu mengadakan upacara karena hal itu bertepatan dengan upacara menyepi. Selain itu perhitungan menentukan hari baik didasarkan pada hari-hari naas yang ada dalam setiap bulannya, seperti yang tercantum dibawah ini:
  1. Muharam (Muharram) hari Sabtu-Minggu tanggal 11,14
  2. Sapar (Safar) hari Sabtu-Minggu tanggal 1,20
  3. Maulud hari (Rabiul Tsani)Sabtu-Minggu tanggal 1,15
  4. Silih Mulud (Rabi'ul Tsani) hari Senin-Selasa tanggal 10,14
  5. Jumalid Awal (Jumadil Awwal)hari Senin-Selasa tanggal 10,20
  6. Jumalid Akhir (Jumadil Tsani)hari Senin-Selasa tanggal 10,14
  7. Rajab hari (Rajab) Rabu-Kamis tanggal 12,13
  8. Rewah hari (Sya'ban) Rabu-Kamis tanggal 19,20
  9. Puasa/Ramadhan (Ramadhan)hari Rabu-Kamis tanggal 9,11
  10. Syawal (Syawal) hari Jumat tanggal 10,11
  11. Hapit (Dzulqaidah) hari Jumat tanggal 2,12
  12. Rayagung (Dzulhijjah) hari Jumat tanggal 6,20
Pada hari-hari dan tanggal-tanggal tersebut tabu menyelenggarakan pesta atau upacara-upacara perkawinan, atau khitanan. Upacara perkawinan boleh dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari dilaksanakannya upacara menyepi. Selain perhitungan untuk menentukan hari baik untuk memulai suatu pekerjaan seperti upacara perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, dan lain-lain, didasarkan pada hari-hari naas yang terdapat pada setiap bulannya.

Sudah jelas dan sudah ada pengenalan???walaupun belum mengunjungi objek wisata namun sudah tahu sebagian dari obejk tersebut. Untuk lebih afdol dan lebih komplit lagi mari kita sama-sama kunjungi tempat tersebut. Mudah-mudahan pengalaman dan pengamalan nantinya ketika sudah mengetahui objek wisata tersebut kita bisa belajar tentang kearifan lokal yang ada disana.
Oke sekian postingan dari saya kurang lebihnya mohon maaf, salam hangat bagi pembaca yang budiman yang senantiasa berkenan untuk berkunjung dan membaca tulisan saya ini.
wassalaamu'alaikum...

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Naga
Jumat, 08 Februari 2013 0 komentar

Candi Sukuh



Candi Sukuh Tak Lekang Oleh Waktu

Banyak sekali peninggalan bersejarah di nusantara tercinta ini। Warisan nusantara yang tidak pernah ada habisnya jika kita terus menelusuri dan melestarikannya. Namun, sangat disayangkan, beberapa peninggalan sejarah di Indonesia dewasa ini mulai terasing di negeri sendiri. Anak kawula muda telah menemukan dunia baru hasil impor dari berbagai mancanegara yang terbilang canggih. Ketertarikan eksplorasi jelajah negeri sendiri pun mulai terabaikan dari agenda liburan atau pariwisata anak negeri.
Sungguh, sangat disayangkan, karena dari pemuda dan pemudilah nusantara akan selalau terjaga. Semoga jiwa cinta nusantara terus terpatri di dalam jiwa kita ini dengan kuat. Selayaknya anak negeri yang mencintai negeri sendiri dan menjaga warisan nusantara sebagai harta dan karunia yang terindah. Semoga kita selalu senantiasa memperbaiki diri untuk mencintai warisan nusantara dan terus berkarya yang terbaik. Aamiin
Jika kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Untuk menuju kesana, bisa dengan menggunakan Gonla sebagai refensi hotel dan flight. Di sana terdapat peninggalan sejarah yang sangat indah dengan suasana yang sangat asri. Udara sejuk dengan kandungan oksigen yang sangat kaya akan kita dapatkan di tempat ini. Bagaimana tidak, polusi udara tidak akan kita temukan, lingkungan yang teduh dan sejuk masih terjaga dengan baik. Peninggalan sejarah berupa kompleks candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut. Secara astronomis terletak pada 07o37,38’85” LS dan 111o07,52’65” BB. Kompleks candi Sukuh merupakan kompleks bangunan yang berteras, mengingatkan bentuk bangunan punden berundak. Teras di kompleks tersebut terdiri dari tiga teras atau halaman yang masing-masing dibatasi oleh pagar. Halaman paling suci terdapat di teras ketiga atau paling belakang, di mana terletak candi utama yang menghadap ke arah barat.
Ditilik dari latar belakang sejarahnya, kompleks candi Sukuh merupakan candi berlatar belakang agama Hindu, hal ini diketahui dari ditemukannya lingga dalam bentuk naturalis berukuran besar di kompleks tersebut. Berdasarkan prasasti yang terdapat pada bangunan, arca, dan relief, yang berkisar antara tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi – 1378 Saka atau 1456 Masehi diperkirakan candi didirikan pada abad XV M.
Meskipun berlatar belakang agama Hindu namun terlihat bahwa bentuk bangunannya cenderung kembali pada masa prasejarah, terutama bentuk punden berundak. Sobat tentunya masih ingat dengan pelajaran sejarah SMP kelas 1 tentang manusia purba dan peninggalannya kan? Nah, sekarang adalah waktunya untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah itu. Semoga bisa me-refresh jiwa dan raga kita untuk kembali berkarya atau setidaknya berkenalan dengan nenek moyang kita melalui peninggalannya. Berdasarkan relief yang terdapat di Kompleks Candi Sukuh yang menceritakan tentang Garudeya dan Sudhamala, diperkirakan candi tersebut berhubungan dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan atau ruwatan berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur yang tampak pada susunan bangunan dalam bentuk teras berundak pada Masa Prasejarah.
Kompleks Candi Sukuh ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson. Tahun 1842 Van der Vills mengadakan penelitian terhadap sisa-sisa bangunan di Candi Sukuh, Hoepermans tahun 1864-1867 menulis tentang Sukuh. Wuah, semangat kita untuk mengunjungi dan mempublikasikan candi sukuh ini jangan sampai kalah dengan para pendahulu kita ya! Semoga saja dengan gaya bahasa kita yang khas dan lebih atraktif mampu menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi candi Sukuh. Tentunya sobat memiliki kemampuan tersebut.
Kemampuan untuk menulis atau pun menarik perhatian khalayak ramai untuk mengunjungi candi Sukuh dengan gaya dan cara masing-masing. Inventarisasi dilakukan oleh Knebel tahun 1910, dan beberapa literatur yang memuat tentang Sukuh. Baru pada tahun 1917 dilakukan penanganan oleh pemerintah RI, melalui Dinas Purbakala. Pemugaran dilakukan pada tahun 1928 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. beberapa kegiatan penelitian arkeologis juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia seperti Ph. Soebroto, Riboet Darmosoetopo, J. Padmopuspito, dll. Sedangkan penelitian secara geologis juga pernah dilakukan oleh BSKB Borobudur. Wow, wow, jadi semangat kan untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan nusantara? Candi Sukuh ini dibagi dalam 3 Teras unik, yaitu:
Teras I
Pada teras pertama ini disambut dengan arsitektur gapura berbentuk trapesium yang memiliki relief berupa seseorang yang sedang dimakan raksasa dan diperkirakan merupakan sengkalan yang berbunyi gapura buta aban wong atau sama dengan tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Relief lain berbunyi gapura butha anahut buntut atau 1359 Saka atau sama dengan 1437 Masehi. Pada bagian lantai pintu gerbang terdapat relief phallus dan vagina yang dipahatkan secara naturalis. Candi Sukuh ini terkenal dengan kevulgarannya. Mulai dari relief maupun suguhan cerita reliefnya. Nah, terbukti kan dari teras pertama saja, kita sudah disuguhkan dengan relief phallus dan vagina. Nah, kejutan selanjutnya pasti akan kalian temui di teras berikutnya.
Tapi, berlatar belakang sejarah dan ceritanya, relief-relief ini jangan hanya dipandang sebagai relief candi yang vulgar ya. Karena, walau bagaimana pun, tetap sarat makna. Kita bisa belajar tentang penciptaan manusia dari candi Sukuh ini. Tentu, dalam versi nenek moyang kita pada zaman prasejarah dulu. Temuan lepas pada halaman I berupa batu berbentuk umpak dan beberapa relief seperti relief empat ekor sapi dan relief seorang penunggang kuda dengan payung besar. Nah, relief empat ekor sapi inilah yang menceritakan bagaimana proses penyempurnaan pembentukan sapi. Tentunya, kalian penasaran kan, bagaimana bentuk awal seekor sapi sebelum menjadi sapi seperti yang kita lihat sekarang ini? Nah, ayo, berkunjung ke candi Sukuh untuk melihat relief sapi yang sesungguhnya versi nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu.
Teras II
Masuk halaman II akan membawa kita ke dunia kerajaan di mana di segala sisi terdapat penjaga yang sangar muka dan penampilannya. Nah, begitu juga di candi Sukuh ini, kita akan disambut oleh dua arca penjaga pintu berwajah mengerikan, selain itu juga terdapat talud yang sekarang sudah tidak utuh lagi dan beberapa relief yang salah satu diantaranya merupakan sengkalan berbunyi gajah wiku anahut buntut atau 1378 Saka atau 1456 Masehi. Pastinya sobat semakin penasaran kan dengan kompleks candi Sukuh yang megah ini. Emm..kalau belum, lihat-lihat aja dulu fotonya, siapa tahu rasa ingin tahu kalian tumbuh dan akhirnya ada ketertarikan untuk berkunjung.
Teras III
Untuk masuk ke halaman III kita juga harus melewati gapura yang kondisinya hanya tersisa sebagian, halaman ini juga memiliki talud dan sebagian besar telah hilang. Sangat disayangkan, ada beberapa benda yang hilang dari kompleks candi Sukuh ini? Kalau dari hari ke hari kondisi kompleks candi Sukuh kita abaikan, tidak diragukan lagi kalau suatu saat kompleks candi ini yang akan hilang। Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, marilah kita senantiasa menjaga dan merawat warisan budaya kita tercinta ini. Halaman III merupakan halaman paling suci karena didalamnya terdapat candi utama. Candi tersebut mengarah ke barat dan berbentuk seperti piramid terpancung, dan di bagian atas bangunan tersebut terdapat altar. Di depan candi utama terdapat tiga arca kura-kura, soubasement yang berisi relief Sudamala dan Garudeya, serta temuan lepas berupa arca dan relief. Cerita Sudamala dan Garudeya dapat diketahui sebagai berikut:
Nama Suddhamala adalah sebutan bagi salah satu tokoh Pandawa yang kelima, yaitu Sahadewa, yang berarti bersih dari dosa, atau juga dapat berarti “pelepasan” atau disebut juga ruwat. Menurut cerita, nama Suddhamala diberikan kepada Sahadewa karena ia telah berhasil membebaskan Dewi Durga dari kutuk Dewa Siwa. Dewi Durga dikutuk menjadi raksasa oleh Dewa Siwa karena ia telah berbuat salah kepada suaminya dan harus turun ke dunia. Ia dapat bebas dari kutukan jika diruwat oleh Sahadewa, anak Kunti. Durga kemudian menemui Kunti agar Sahadewa meruwatnya. Kunti menolak, kemudian Durga menyuruh Kalika untuk merasuk ke jasad Kunti agar Kunti mau menerimanya. Namun, Sahadewa tetap menolak permintaan Durga. Ia kemudian diikat pada sebatang pohon dan ditakut-takuti. Akhirnya Sahadewa berhasil meruwat Durga, sebagai hadiah ia dikawinkan dengan Ni Padapa, anak Pertapa dari Parangalas bernama Tambapetra.
Sedangkan cerita Garudeya bermula dari pertaruhan antara Winata dan Kadru (para istri Ksyapa) tentang warna ekor Kuda Uchchaicrawa yang keluar selama pengadukan lautan susu. Sang Kadru menang taruhan karean ekor Kuda Uchchaicrawa telah diberi bisa oleh para naga (anak-anak Kadru) sehingga berubah warna menjadi hitam. Winata yang kalah bertaruh menjadi budak Kadru, ia dipenjarakan di dunia paling bawah dan dapat terbebas dari perbudakan jika ia menyerahkan air penghidupan (amerta) kepada para naga. Garuda mencoba membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda menuju ke gunung tempat amerta disimpan. Di tempatnya, amera dikelilingi oleh api yang menyala-nyala. Namun, Garuda dengan tubuh keemasannya yang bersinar bagai matahari minum air dari sungai-sungai dan memadamkan apinya. Dewa Indra tahu kemudian mengejarnya. Mereka berkelahi, Indra kalah vajranya terlempar. Garuda melanjutkan perjalanannya hingga mencapai tempat tinggal para naga. Dengan kedatangannya membawa amerta, ibunya dapat dibebaskan dari perbudakan.

Sumber : http://goexperience.gonla.com/2012/09/27/candi-sukuh-tak-lekang-oleh-waktu/
Rabu, 02 Januari 2013 0 komentar

“Syukur Laut” Nelayan Cipatujah Meriah

Rabu, 26 Dec 2012 | 09:22:14 WIB

Terkait

Gubernur dan Bupati Larung Jempana Kosong

CIPATUJAH, (KP).-
Setelah terlaksana sekitar 37 kali sejak tahun 1975, tahun 2012 ini merupakan kegiatan Syukur Laut yang pertama kalinya dihadiri pejabat setingkat Gubernur. Hal tersebut diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Mulyadi, yang juga Ketua Panitia kegiatan Syukur Laut 2012, dalam pidatonya yang mengawali acara, Selasa (25/12) di Pamayangsari Kecamatan Cipatujah.
Acara yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Dr. H. Ahmad Heryawan, Lc, dan Bupati Tasikmalaya H. Uu Ruzhanul Ulum, SE, serta disaksikan oleh ribuan pengunjung tersebut berlangsung dengan meriah. Bahkan, akting sang lengser dalam pergelaran upacara adat, sempat mengundang gelak tawa dari kedua kepala daerah tersebut.
Selain menghadiri kegiatan Syukur Laut, kedua kepala daerah tersebut pun didaulat oleh para nelayan untuk melarung jampana kosong di lepas pantai. Dengan menaiki perahu nelayan, Ahmad Heryawan dan Uu Ruzhanul Ulum dengan didampingi Ketua HNSI Kabupaten Tasikmalaya dan Ketua Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin melarung jampana kosong sebagai simbol rasa syukur nelayan, di lepas pantai Pamayangsari.
Dedi Mulyadi menegaskan, kegiatan Syukur Laut adalah kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan pada setiap akhir tahun. “Kegiatan ini adalah tanda syukur kami sebagai nelayan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rejeki berlimpah yang kami dapatkan,” tegasnya. Masih menurut Dedi, pelaksanaan Syukur Laut tahun ini terasa begitu meriah karena kehadiran Gubernur dan Bupati.
“Setelah sekian puluh kalinya kami melaksanakan kegiatan Syukur Laut, baru tahun ini dihadiri pejabat sekelas Gubernur, ditambah lagi didampingi oleh Bupati. Membuat kebahagiaan ini terasa begitu besar,” ungkap Dedi.
Selain itu, Dedi Mulyadi pun mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jawa Barat atas bantuan 2 kapal 5 GT, yang diperoleh dalam 2 tahun terakhir secara berturut-turut. “Kami juga mengharapkan jumlah bantuan kapal yang lebih banyak di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.
Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat mengungkapkan kebanggaannya atas peningkatan penghasilan para nelayan Pamayangsari. Ahmad Heryawan juga menyampaikan uang ‘kadeudeuh’ kepada 4 keluarga pelopor nelayan di Pamayangsari, juga menyerahkan Kartu Anggota Nelayan secara simbolik.
Jampana kosong
Hal yang menonjol dan cukup menarik perhatian dalam rangkaian acara Syukur Laut adalah melarung jampana, yakni sejenis replika rumah yang dihias dengan berbagai aksesoris.
Pada awalnya sampai dengan beberapa tahun lalu, jampana tersebut diisi dengan kepala kerbau dan berbagai makanan serta umbi-umbian. Namun sejak beberapa tahun lalu, para nelayan Pamayangsari tidak lagi memasukan kepala kerbau dalam jampana yang dilarung di lepas pantai tersebut.
“Memang dalam beberapa tahun terakhir ini, jampana yang dilarung tidak berisi apa-apa. Ini hanyalah sebagai simbol rasa syukur para nelayan,” tegas Dedi Mulyad.
Uniknya, jampana yang hanya berukuran sekitar 1x2m tersebut, selalu dilarung oleh pejabat. “Biasanya dilarung oleh Bupati atau Sekda, dan baru kali ini dilarung oleh Gubernur,” tambahnya. E-50***

Nelayan Keluhkan Sarana dan Prasarana
CIPATUJAH, (KP).-
Kesempatan bisa bertatap muka langsung dengan “pupuhu” Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan, dimanfaatkan oleh Ketua HNSI Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Mulyadi, untuk menceritakan kondisi nelayan Cipatujah saat ini. Menurut Dedi, bantuan dari Pemerintah baik Provinsi maupun Kabupaten sudah cukup banyak. Hanya saja untuk bisa menggali potensi yang ada di laut lepas dengan bentangan 54 kilometer pantai masih banyak yang dibutuhkan.
“Kami butuh perahu besar dengan kapasitas 5 GT untuk bisa memanfaatkan potensi ikan di atas 5 mil, saat ini potensi ikan yang ada baru tergali 13 persennya saja,” kata Dedi.
Bukan hanya, itu, dermaga pendaratan ikan, bantuan alat tangkap, peningkatan sumber daya manusia di kalangan nelayan dan solusi dalam menyiasati perubahan cuaca yang kerap menjadi kendalan nelayan juga dibutuhkan.
Dedi juga menceritakan terkatung-katungnya kondisi SMAN 2 Cipatujah berbasis Kelautan yang masih numpang di ruang Rapat Kepala Desa Cikawungading dalam belajar. Padahal di sekolah tersebut peningkatan SDM nelayan bertumpu, karena hampir semua anak-anak yang sekolah di SMAN 2 Cipatujah adalah anak nelayan.
Sekolah tersebut diharapkan menjadi kawah candradimuka untuk mengggodok ahli-ahli kelautan handal yang bisa memanfaatkan potensi ikan Cipatujah dengan penerapan teknologi, bukan lagi dengan mengandalkan otot yang saat ini dilakukan.
Menanggapi keluhan tersebut, Ahmad Heryawan berjanji akan terus memperhatikan kebutuhan nelayan.
Tahun 2013 mendatang, ujar Gubernur, Pemerintah Provinsi siap memberikan bantuan 100 sampai 150 perahu dengan kapasitas 2 GT. Sebanyak 60 persenya akan disalurkan untuk nelayan di pantai selatan dan sisanya untuk nelayan pantai Utara.
“Yang sudah keteropong anggaranya cukup untuk 100 sampai 150 perahu, mudah-mudahan bisa lebih,” katanya.
Ia juga berjanji akan terus membangun infrastruktur nelayan di pantai selatan dengan membangun pelabuhan pendaratan ikan yang lebih besar agar bisa menampung kapal besar.
Lokasi untuk pembangunan pelabuhan tersebut selain di Cipatujah yang saat ini sudah ada, rencananya di Cimanuk Cikalong, Garut Selatan juga Cianjur.
Mengenai sekolah SMAN 2 Cipatujah, Gubernur siap memberi bantuan untuk 4 unit ruang kelas baru yang langsung dicatat dan bisa dianggarkan pada anggaran tahun 2013. E-20***

Sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/7482

Wilujeng Sumping

Kebijakan Privasi

Kebijakan Privasi

Blog ini menghormati privasi Anda. Informasi pribadi yang kami kumpulkan, seperti nama dan email (jika Anda berkomentar), tidak akan disebarkan atau digunakan untuk tujuan lain tanpa izin Anda.

Kami menggunakan layanan pihak ketiga seperti Google AdSense yang mungkin menempatkan cookie di browser Anda untuk menampilkan iklan yang relevan.

Anda dapat mengatur preferensi iklan melalui pengaturan Google Ads: https://adssettings.google.com.

 
;
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda di Blog Sederhana Ini, Semoga Berkenan dan Ada Manfaatnya, bagi yang mau memasang iklan produknya di blog saya ini silahkan hubungi no HP : 085223419416, Terima Kasih dan Salam Kebahagiaan Dari Saya :)